Pengamat: Unjuk Rasa Mahasiswa Selamatkan Demokrasi yang Retak

- Senin, 11 April 2022 | 20:58 WIB
Ade Armando dihajar massa saat turun memantau aksi demo 11 April 2022 di depan gedung DPR/MPR RI. (Tangkapan layar Instagram @gardujaga)
Ade Armando dihajar massa saat turun memantau aksi demo 11 April 2022 di depan gedung DPR/MPR RI. (Tangkapan layar Instagram @gardujaga)

BLORA.SUARAMERDEKA.COM - Pengamat politik Universitas Jember (Unej) Muhammad Iqbal mengatakan unjuk rasa besar-besaran mahasiswa di Jakarta dan berbagai daerah menunjukkan sikap kaum milenial untuk menyelamatkan demokrasi yang retak di Indonesia.

"Unjuk rasa pada 11 April 2022 sangat menarik dan signifikan dipahami sebagai upaya generasi kekinian selamatkan demokrasi," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin.

Menurutnya bukan lagi soal jumlah peserta aksi karena hal itu tidak penting lagi mau besar atau kecil, namun hal itu menjadi momentum fundamental bagi uji terkonsolidasi-nya gerakan mahasiswa milenial.

Baca Juga: Perwira Brimob Meninggal Saat Amankan Aksi Unjuk Rasa

"Mereka kini sangat sadar dan terpanggil untuk selamatkan demokrasi dan amanat reformasi dari cengkeraman jerat kuasa oligarki politik, oligarki ekonomi dan oligarki media sekaligus," ucap dosen FISIP Unej itu.

Ia menilai kelompok mahasiswa kini sangat menyadari potensi besarnya agar tidak mau lagi dijadikan korban komoditas politik dan ekonomi, serta mereka pun tidak mau jadi obyek politik transaksional "dagang sapi" hanya untuk kepentingan kuasa pemilu saja.

"Gerakan aksi hari ini hendak memastikan jangan sampai demokrasi Indonesia mati oleh oligarki yang berkedok 'taat konstitusi'," ucap pakar komunikasi Unej itu.

Baca Juga: Profil dan Biodata Ade Armando, Pegiat Medsos dan Dosen UI yang Dikeroyok Saat Demo 11 April

Iqbal mengatakan gerakan mahasiswa kemungkinan juga terinspirasi dari dialektika buku "How Democracies Die" karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt karena situasi politik kekuasaan Indonesia saat ini mirip dengan kriteria yang ada dalam buku itu.

"Misalnya, bagaimana terjadinya fatefull alliances ketika rezim kekuasaan bersekutu dengan para politikus mapan secara politik dan ekonomi serta beraliansi dengan konglomerasi media," tuturnya.

Bahkan, lanjut dia, dramaturgi memainkan narasi konstitusi dan lembaga demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara mengkhianati reformasi dan membunuh demokrasi lewat wacana penundaan pemilu dan perpanjangan tiga periode masa jabatan presiden.

Baca Juga: Sudah Kantongi Identitas Pelaku, Polda Metro Ultimatum Pengeroyok Ade Armando Serahkan Diri

"Pada momentum itulah, gerakan mahasiswa post-milenial 11 April 2022 sangat kuat nilai konsolidasinya bagi upaya penyelamatan demokrasi dan 18 tuntutan gerakan mahasiswa yang belum tuntas terjawab oleh Presiden Joko Widodo hingga saat ini adalah spirit perjuangan demonstrasi," ujarnya.

Ia menjelaskan unjuk rasa pada 11 April 2022 bukanlah akhir, tapi justru awal bangkitnya konsolidasi untuk menyelamatkan demokrasi dan panjang umur gerakan mahasiswa.

Editor: Joko Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X