3 Negara Ini Diprediksi Segera Ikuti Jejak Krisis Sri Lanka, Apakah Indonesia Termasuk?

- Sabtu, 16 Juli 2022 | 21:59 WIB
Aksi massa menduduki kediaman Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa.  (afp)
Aksi massa menduduki kediaman Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa. (afp)

BLORA.SUARAMERDEKA.COM - Kehancuran negara Sri Lanka menjadi catatan panjang, sebuah negara yang hancur karena hutang luar negeri yang menumpuk.

Juga stabilitas ekonomi dalam negeri yang tidak bisa terjaga. Menurut laporan Kelompok Tanggap Krisis Global dari Sekretaris Jenderal PBB, sekitar 1,6 miliar orang di 94 negara menghadapi setidaknya satu dimensi krisis pangan, energi dan sistem keuangan.

Sekitar 1,2 miliar dari mereka tinggal di negara-negara dengan "badai sempurna" dan sangat rentan terhadap krisis biaya hidup ditambah krisis jangka panjang lainnya.

Penyebab pasti kesengsaraan mereka bervariasi. Namun semua berbagi risiko yang meningkat dari melonjaknya biaya untuk makanan dan bahan bakar, didorong oleh pandemi Covid-19.

Baca Juga: Kenapa Singapura Berani Izinkan Masuk Rajapaksa, Bukankah Itu Pelanggaran HAM Negara yang Serius?

Juga perang Rusia melawan Ukraina. Akibatnya, Bank Dunia memperkirakan bahwa pendapatan per kapita di negara berkembang akan menjadi 5% di bawah tingkat pra-pandemi tahun ini.

Krisis ekonomi sedang melanda sebagian negara di dunia, Sri Lanka menjadi contoh.
Kini negara tersebut tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Tak hanya krisis ekonomi, krisis kemanusiaan pun tak terelakkan. Kini sekolah-sekolah ditutup karena kekurangan bahan bakar untuk membawa anak-anak dan guru ke ruang kelas.

Upayanya untuk mengatur dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah terhambat oleh parahnya krisis keuangan negara.

Halaman:

Editor: Eko Wahyu Budi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X